“Langkah Baru”
Pagi ini, langit sedang tidak
bersahabat bagi sebagian manusia yang punya rutinitas padat di luar rumah. Di
sebuah kamar rumah berlantai dua dengan halaman yang sangat luas untuk kategori
hunian minimalis, Nasha masih sibuk merangkai mimpinya yang acak. Sementara itu
seorang wanita paruh baya sedang menapaki anak tangga untuk membangunkan gadis
itu dari mimpi-mimpi acak yang membuatnya depresi beberapa hari belakangan ini.
Wanita itu berjalan mendekati daun pintu dan membukanya perlahan, “hmmm,, hari
ini pun masih sama” bisiknya pelan pada
diri sendiri.
Pagi ini masih sama dengan
pagi-pagi yang melelahkan sejak beberapa minggu berlalu putrinya yang sudah
remaja itu memutuskan menjadi orang asing. Putrinya yang riang, yang tidak
pernah diam, yang selalu menceritakan semua hal kepadanya mendadak menjadi
bisu. Gadis itu mendadak menjadi pemurung, dia melamun, kemudian menangis
tergugu sendiri. Ya, beberapa bulan ini
Nasha begitu terpukul dengan masalah percintaannya yang pelik. Dia juga tidak
tahu pasti masalah apa yang sedang dihadapi putrinya, ia hanya mendengar
potongan-potongon cerita dari beberapa teman dekat Nasha di kampus. Bahkan dia
lebih sering mengambil kesimpulan sendiri dari potongan-potongan kata yang
diucapkan Nasha lewat tidurnya yang resah.
Sebagai seorang ibu, Ny. Khalid
tidak pernah memaksa anaknya untuk menceritakan apapun yang mereka alami. Bagi
dia, menunggu anak-anaknya mengungkapkan itu sendiri jauh lebih baik. Saat
mereka menceritakan sendiri, berarti mereka sudah siap berbagi dengan
lingkungannya. Bahkan saat anak sulungnya Nathan memutuskan untuk memilih jalan
hidupnya sendiri, Ny. Khalid tidak pernah mencoba menghentikannya. Termasuk
tentang Nasha, gadis itu sedang terpuruk dalam sakit jatuh cinta. Dan tidak ada
yang mampu membawanya keluar kecuali dirinya sendiri.
Setelah hampir setengah jam
menatap sedih putrinya yang lagi-lagi melewati mimpi-mimpi meresahkan, akhirnya
Ny. Khalid memutuskan mengakhiri mimpi-mimpi itu. “Nasha sayang, bangun Nak.
Kamu harus berangkat ke kampus, bertemu teman-teman, dan menata ulang
semuanya”. Wanita itu membelai pelan rambut buah hatinya, ada rasa sakit yang
pelan-pelan menjalar di hatinya. Tuhan,
kurangi rasa sakit yang ia tanggung, sedikit saja.
Nasha mulai mengerjapkan
matanya, berusaha mengenali sekitarnya. Sesaat kemudian ia menyadari wajah yang
duduk dihadapannya, itu Ibundanya. Wanita yang paling ia sayangi dan
satu-satunya yang begitu memahami dia sebaik ini. Ayahnya juga sangat baik,
tapi mengingat ayahnya yang selalu sibuk dengan semua urusan pekerjaan, Nasha
lebih suka berbagi dengan Bunda. “Iyaa Bun,, aku sudah bangun. Bisakah Bunda
memberi aku waktu ?”.
Waktu, adalah satu-satunya hal
yang dibutuhkan Nasha, karna hanya waktu yang paham dengan baik bagaimana luka
ini akan sembuh. Bagaimana dia bisa melupakan depresi berat yang ia lalui
tentang cinta yang mati. Hari itu, di bawah cahaya senja saat dia memilih
mengakhiri semua rasa dengan Adli. Bukan masalah dia menyesali keputusan itu,
tapi melihat bagaimana Adli hidup sekarang. Laki-laki itu memilih menghancurkan
masa depannya, memilih hidup tanpa arah, dan yang membuat Nasha seperti
dihantui mimpi buruk berkepanjangan adalah Adli yang mendadak menjadi kasar.
Laki-laki itu benar-benar murka, tapi Nasha tidak punya pilihan. Dia harus
mengakhiri semua, sebelum pada akhirnya menyakiti hati laki-laki baik hati yang
menemaninya beberapa bulan belakangan. Nasha tidak lagi mencintainya seperti
dulu, tidak ada detakan jantung yang menghentak dada saat mereka bersama, tidak
ada desiran yang membuat mukanya bersemu saat mereka tidak sengaja bertatap
mata, dan tidak ada lagi rindu-rindu yang menyesakkan. Semua telah hilang,
Nasha pun tidak tahu pasti pasal apa yang membuatnya begitu yakin mengambil
keputusan itu. Semua baginya terasa sunyi, senyap, kosong, hampa, mati rasa.
Setelah mandi, bersiap-siap dan
sedikit mematut diri di depan kaca, Nasha akhirnya bergabung di meja makan
untuk sarapan pagi bersama. Ayahnya sibuk membaca koran yang memberitakan
tentang indeks saham yang sedang tidak menguntungkan investor akhir-akhir ini.
Bundanya sibuk merapikan peralatan makan, menyeduh teh, mengambil beberapa
potong roti untuk sarapan pagi keluarga. Sementara Nathan, kakak laki-lakinya
yang berbeda usia dua tahun darinya sibuk dengan dunianya sendiri. Tidak peduli
dengan lingkungan, dia hanya menhentak-hentakkan kaki dan kepala bersamaan
mengikuti irama musik yang mengalun dari earphone
yang menempel di telinganya. Nasha yang menyadari bahwa beberapa minggu
belakangan menjadi sangat pendiam, mulai berusaha hidup normal.
Nasha menyadari, seluruh
keluarganya dan teman-temannya mencemaskan kondisinya belakangan ini. Nasha
yang keras kepala, mulai benci dengan tatapan kasihan dari lingkungan, dan
bisik-bisik yang membuatnya jengah. Maka mulai pagi ini dia berusaha menata
hidupnya kembali. Seperti pesan yang dibisikkan Bunda pagi ini, ia juga ingin
mengakhiri malam-malam panjang dengan helaan nafas tertahan, malam-malam dengan
mimpi-mimpi yang menyesakkan. Rasa bersalah yang menghantuinya, dan
tekanan-tekanan yang datang dari luar. Bosan sudah ia dengan semua.
“Sampai kapan lo mau berdiri
disana ? Lo mau kita mati kelaparan nungguin lo nyampe di meja makan, heh ?
Buruan, siniii !!!”. Teriakan Nathan barusan membuyarkan lamunan Nasha. Dia
hanya nyengir dan pada akhirnya bergabung dalam sarapan singkat itu. Dalam hati
Nasha bertekad untuk mengakhiri rasa sesak itu sekarang juga sebelum semua
menjadi tidak terkendalikan dan ia akan menyesali kebodohan-kebodohan yang
sudah ia buat.
===





