RSS

Bisik-Bisik di langit - Part 2



“Langkah Baru”
                Pagi ini, langit sedang tidak bersahabat bagi sebagian manusia yang punya rutinitas padat di luar rumah. Di sebuah kamar rumah berlantai dua dengan halaman yang sangat luas untuk kategori hunian minimalis, Nasha masih sibuk merangkai mimpinya yang acak. Sementara itu seorang wanita paruh baya sedang menapaki anak tangga untuk membangunkan gadis itu dari mimpi-mimpi acak yang membuatnya depresi beberapa hari belakangan ini. Wanita itu berjalan mendekati daun pintu dan membukanya perlahan, “hmmm,, hari ini pun masih sama”  bisiknya pelan pada diri sendiri.
                Pagi ini masih sama dengan pagi-pagi yang melelahkan sejak beberapa minggu berlalu putrinya yang sudah remaja itu memutuskan menjadi orang asing. Putrinya yang riang, yang tidak pernah diam, yang selalu menceritakan semua hal kepadanya mendadak menjadi bisu. Gadis itu mendadak menjadi pemurung, dia melamun, kemudian menangis tergugu sendiri.  Ya, beberapa bulan ini Nasha begitu terpukul dengan masalah percintaannya yang pelik. Dia juga tidak tahu pasti masalah apa yang sedang dihadapi putrinya, ia hanya mendengar potongan-potongon cerita dari beberapa teman dekat Nasha di kampus. Bahkan dia lebih sering mengambil kesimpulan sendiri dari potongan-potongan kata yang diucapkan Nasha lewat tidurnya yang resah.
                Sebagai seorang ibu, Ny. Khalid tidak pernah memaksa anaknya untuk menceritakan apapun yang mereka alami. Bagi dia, menunggu anak-anaknya mengungkapkan itu sendiri jauh lebih baik. Saat mereka menceritakan sendiri, berarti mereka sudah siap berbagi dengan lingkungannya. Bahkan saat anak sulungnya Nathan memutuskan untuk memilih jalan hidupnya sendiri, Ny. Khalid tidak pernah mencoba menghentikannya. Termasuk tentang Nasha, gadis itu sedang terpuruk dalam sakit jatuh cinta. Dan tidak ada yang mampu membawanya keluar kecuali dirinya sendiri.
                Setelah hampir setengah jam menatap sedih putrinya yang lagi-lagi melewati mimpi-mimpi meresahkan, akhirnya Ny. Khalid memutuskan mengakhiri mimpi-mimpi itu. “Nasha sayang, bangun Nak. Kamu harus berangkat ke kampus, bertemu teman-teman, dan menata ulang semuanya”. Wanita itu membelai pelan rambut buah hatinya, ada rasa sakit yang pelan-pelan menjalar di hatinya. Tuhan, kurangi rasa sakit yang ia tanggung, sedikit saja.
                Nasha mulai mengerjapkan matanya, berusaha mengenali sekitarnya. Sesaat kemudian ia menyadari wajah yang duduk dihadapannya, itu Ibundanya. Wanita yang paling ia sayangi dan satu-satunya yang begitu memahami dia sebaik ini. Ayahnya juga sangat baik, tapi mengingat ayahnya yang selalu sibuk dengan semua urusan pekerjaan, Nasha lebih suka berbagi dengan Bunda. “Iyaa Bun,, aku sudah bangun. Bisakah Bunda memberi aku waktu ?”.
                Waktu, adalah satu-satunya hal yang dibutuhkan Nasha, karna hanya waktu yang paham dengan baik bagaimana luka ini akan sembuh. Bagaimana dia bisa melupakan depresi berat yang ia lalui tentang cinta yang mati. Hari itu, di bawah cahaya senja saat dia memilih mengakhiri semua rasa dengan Adli. Bukan masalah dia menyesali keputusan itu, tapi melihat bagaimana Adli hidup sekarang. Laki-laki itu memilih menghancurkan masa depannya, memilih hidup tanpa arah, dan yang membuat Nasha seperti dihantui mimpi buruk berkepanjangan adalah Adli yang mendadak menjadi kasar. Laki-laki itu benar-benar murka, tapi Nasha tidak punya pilihan. Dia harus mengakhiri semua, sebelum pada akhirnya menyakiti hati laki-laki baik hati yang menemaninya beberapa bulan belakangan. Nasha tidak lagi mencintainya seperti dulu, tidak ada detakan jantung yang menghentak dada saat mereka bersama, tidak ada desiran yang membuat mukanya bersemu saat mereka tidak sengaja bertatap mata, dan tidak ada lagi rindu-rindu yang menyesakkan. Semua telah hilang, Nasha pun tidak tahu pasti pasal apa yang membuatnya begitu yakin mengambil keputusan itu. Semua baginya terasa sunyi, senyap, kosong, hampa, mati rasa.
                Setelah mandi, bersiap-siap dan sedikit mematut diri di depan kaca, Nasha akhirnya bergabung di meja makan untuk sarapan pagi bersama. Ayahnya sibuk membaca koran yang memberitakan tentang indeks saham yang sedang tidak menguntungkan investor akhir-akhir ini. Bundanya sibuk merapikan peralatan makan, menyeduh teh, mengambil beberapa potong roti untuk sarapan pagi keluarga. Sementara Nathan, kakak laki-lakinya yang berbeda usia dua tahun darinya sibuk dengan dunianya sendiri. Tidak peduli dengan lingkungan, dia hanya menhentak-hentakkan kaki dan kepala bersamaan mengikuti irama musik yang mengalun dari earphone yang menempel di telinganya. Nasha yang menyadari bahwa beberapa minggu belakangan menjadi sangat pendiam, mulai berusaha hidup normal.
                Nasha menyadari, seluruh keluarganya dan teman-temannya mencemaskan kondisinya belakangan ini. Nasha yang keras kepala, mulai benci dengan tatapan kasihan dari lingkungan, dan bisik-bisik yang membuatnya jengah. Maka mulai pagi ini dia berusaha menata hidupnya kembali. Seperti pesan yang dibisikkan Bunda pagi ini, ia juga ingin mengakhiri malam-malam panjang dengan helaan nafas tertahan, malam-malam dengan mimpi-mimpi yang menyesakkan. Rasa bersalah yang menghantuinya, dan tekanan-tekanan yang datang dari luar. Bosan sudah ia dengan semua.
                “Sampai kapan lo mau berdiri disana ? Lo mau kita mati kelaparan nungguin lo nyampe di meja makan, heh ? Buruan, siniii !!!”. Teriakan Nathan barusan membuyarkan lamunan Nasha. Dia hanya nyengir dan pada akhirnya bergabung dalam sarapan singkat itu. Dalam hati Nasha bertekad untuk mengakhiri rasa sesak itu sekarang juga sebelum semua menjadi tidak terkendalikan dan ia akan menyesali kebodohan-kebodohan yang sudah ia buat.  
===

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar: